KOMUNIKASI YANG EFEKTIF DALAM PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER PESERTA DIDIK

KOMUNIKASI YANG EFEKTIF

DALAM PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER PESERTA DIDIK

Maulidatul Khoriyah

lijoslida@gmail.com

 

Abstrak. Komunikasi merupakan kegiatan yang melekat pada diri manusia sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dimanapun manusia itu berada dan kapanpun. Dalam pendidikan karakter komunikasi menjadi suatu proses yang penting. Artinya pendidikan karakter dipengaruhi oleh kualitas komunikasi yang terjalin. Terjadinya komunikasi yang baik tentunya tidak lepas dari bahasa yang efektif. Bahasa dan komunikasi mempunyai hubungan yang erat, dapat dilihat dari definisi Bahasa menurut rumusan linguistik dan tinjauan komunikasi, yaitu bahasa digunakan manusia sebagai alat atau media komunikasi untuk berinteraksi dengan sesamanya. Sebaliknya, komunikasi membutuhkan media yang disebut bahasa.  Komunikasi yang efektif mempunyai ketentuan, syarat, prinsip dan strategi yang umum sehingga keberadaanya diera milenial ini cukup signifikan untuk diaplikasikan dalam pendidikan karakter. pesan akan sampai pada tujuan jika terjadi komunikasi yang efektif dalam penyampaiannya. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui model dan bentuk komunikasi modern serta pengaruh komunikasi yang efektif dalam menguatkan pendidikan karakter. Komunikasi yang efektif antara pendidik dengan peserta didik akan mempengaruhi kelancaran dan hasil kegiatan belajar mengajar serta penguatan pendidikan karakter diera milenial.

Kata Kunci: Komunikasi, Efektif, Karakter 

 

Abstract. Communication is an activity inherent in humans as social beings who interact wherever humans are and whenever. In character education, communication becomes an important process. This means that character education is influenced by the quality of communication that exists. The occurrence of good communication certainly cannot be separated from effective language. Language and communication have a close relationship, it can be seen from the definition of language according to linguistic formulations and communication reviews, namely language is used by humans as a communication tool or medium to interact with each other. On the other hand, communication requires a medium called language. Effective communication has general terms, conditions, principles and strategies so that its existence in this millennial era is significant enough to be applied in character education. The message will reach the destination if there is effective communication in its delivery. This article aims to determine the models and forms of modern communication and the effect of effective communication in improving character education. Effective communication between educators and students will affect the smoothness and results of teaching and learning activities as well as strengthening character education in the millennial era.

Keywords: Communication, Effective, Character

 

PENDAHULUAN

                Pendidikan di Indonesia dapat berjalan dengan lancar dan baik, merupakan suatu hal yang sangat diharapkan oleh pemerintah dan masyarakat. Untuk menunjang itu semua, maka diperlukan alat pengikat yang jelas yang saling berhubungan dalam satuan pendidikan yaitu informasi dan komunikasi dengan menggunakan bahasa yang efektif sehingga dapat menguatkan karakter pada peserta didik. Pendidikan dalam proses perkembangan manusia memiliki implikasi pada penguatan karakter yang megarah pada tingkah laku manusia, mulai dari masa kandungan, anak-anak, remaja sampai dewasa. Karakter manusia tampak pada perilaku ekuivalen dengan pendidikan yang diterimanya. Oleh karena itu, pendidikan harus dibungkus sedemikian rupa, baik bahan maupun pengolahanya agar menguatkan karakter yang baik dan seseorang dapat terbiasa berperilaku baik. Agar pendidikan dapat diterima dengan baik, maka harus ada media yang tepat untuk menyampiakan semua pesan yang memuat nilai pendidikan karakter. Media yang tepat adalah komunikasi.

                Komunikasi merupakan bagian rutinitas manusia setiap hari. Dari beberapa hasil penelitian yang tersedia, kurang lebih 95% dalam 24 jam aktivitas manusia adalah komunikasi. Jika, komunikasi tersebut sudah melekat dalam rutinitas seseorang maka otomatis akan berpengaruh secara langsung terhadap karakter diri sendiri melalui kebiasaan sehingga menjadi terbiasa dan berdampak secara tidak langsung dalam interaksi dengan orang lain.

                Menurut Anderson (1959) komunikasi adalah suatu proses dimana kita dapat memahami dan dipahami oleh orang lain. Komunikasi ialah proses yang dinamis dan secara konstan berubah sesuai dengan yang belaku (Syaiful Rohim, 2009). Menurut Moor, komunikasi merupakan penyampaian definisi antar individu. Dia mengatakan semua manusia dilandasi kapasitas untuk menyampaikan maksud, hasrat, perasaan, pengetahuan serta pengalaman dari seseorang kepada orang lain.

                Tercapainya proses penyampaian informasi itu akanberhasil apabila ditunjang dengan alat atau media sebagai sarana menyalurkan informasi atau berita. Dalam kenyataannya proses komunikasi yang kurang lancar terjadi karena kurangnya memperhatikan unsur-unsur yang mestinya ada dalam proses komunikasi. Jadi, dari uraian tersebut, bahwa dalam komunikasi itu perlu diperhatikan mengenai unsur-unsur yang berkaitan dengan proses komunikasi, baik oleh komunikator maupun komunikan, dan juga komunikator harus memahami dari tujuan komunikasi tersebut.

                Upaya dalam menguatkan pendidikan karakter pada peserta didik tidak terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhinya, salah satunya melalui komunikasi dengan bahasa yang efektif. Bahasa sebagai alat komunikasi antara seseorang dengan orang lain berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bahasa merupakan sistem komunikasi yang menggunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat manasuka (arbiter). Berdasarkan dua pengertian tersebut jika, dikaitkan dengan pengertian komunikasi, maka terdapat hubungan yang erat antara keduanya. Bahasa merupakan alat untuk terciptanya sebuah komunikasi yang baik. Dalam komunikasi bahasa merupakan satu hal yang pokok untuk mencapai komunikasi yang baik dan lancar.

                Dari uraian di atas dilihat dari signifikansinya, maka komunikasi dengan bahasa yang efektif dalam pendidikan harus memiliki muatan nilai, mutu, terarah, tepat dan sebagainya. Komunikasi dalam pendidikan karakter harus efektif sehingga terbentuk pribadi yang sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Sebagaimaa yang tertuang dalam UU No 20 Tahun 2003 mengenai sistem pendidikan nasional pasal 3, yang berisi bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan, menguatkan, dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

 

KONSEP KOMUNIKASI EFEKTIF

A.     Komunikasi Efketif

1.     Definisi Komunikasi Efektif Secara etimologi, komunikasi berasal dari bahasa Latin yaitu communicatio artinya pemberitahuan, memberi bahagian, pertukaran di mana si pembicara mengharapkan pertimbangan atau jawaban dari pendengarnya. Kata kerjanya adalah communicara yang berarti bermusyawarah, berunding dan berdialog. Jadi komunikasi berlangsung apabila orang-orang yang terlibat terdapat kesamaan makna communis in meaning, mengenai suatu hal yang dikomunikasikan.

2.     Sedangkan pengertian komunikasi menurut istilah, beberapa ahli memberikan batasan-batasan sebagai berikut:

1)   Oncong menjelaskan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu atau untuk mengubah sikap, pendapat atau perilaku, baik langsung secara lisan, ataupun tidak langsung, secara media. Dari pengertian tersebut jelas bahwa komunikasi melibatkan sejumlah orang, di mana seseorang menyatakan sesuatu kepada orang lain.

2)   James A.F. Stones menyebutkan bahwa komunikasi adalah proses di mana seseorang berusaha memberikan pengertian dengan cara pemindahan pesan.

3)   John R. Schemerhorn Cs dalam bukunya berjudul Managing Organization Behavior, mengatakan bahwa komunikasi dapat diartikan sebagai proses antar pribadi dalam mengirim dan menerima simbol-simbol yang berarti bagi kepentingan mereka.

3.     Dapat disimpulkan bahwa komunikasi efektif, secara garis besar berarti menyampaikan sesuatu dengan cara yang tepat dan jelas sehingga informasi yang kita sampaikan dapat dengan mudah dimengerti oleh orang lain. Komunikasi efektif menjadi salah satu hal penting di mana komunikator dapat menyampaikan pesannya secara baik dengan menggunakan media yang tepat dan dapat diterima oleh sasaran yang tepat. Komunikasi dikatakan efektif apabila terdapat aliran informasi dua arah antara komunikator dan komunikan dan informasi tersebut sama-sama direspon sesuai dengan harapan kedua pelaku komunikasi tersebut.

Terdapat lima aspek yang perlu dipahami dalam membangun komunikasi yang efektif, yaitu;

a.     Kejelasan, bahwa dalam komunikasi harus menggunakan bahasa dan mengemas informasi secara jelas, sehingga mudah diterima dan dipahami oleh komunikan.

b.     Ketepatan, ketepatan atau akurasi ini menyangkut penggunaan bahasa yang benar dan kebenaran informasi yang disampaikan.

c.     Konteks, maksudnya adalah bahwa bahasa dan informasi yang disampaikan harus sesuai dengan keadaan dan lingkungan di mana komunikasi itu terjadi.

d.     Alur, bahasa dan informasi yang akan disajikan harus disusun dengan alur atau sistematika yang jelas, sehingga pihak yang menerima informasi cepat tanggap.

e.     Budaya, dalam berkomunikasi harus menyesuaikan dengan budaya orang yang diajak berkomunikasi, baik dalam penggunaan bahasa verbal maupun nonverbal, agar tidak menimbulkan kesalahan persepsi.

4.     Indikator Komunikasi Efekti berikut ini akan diuraikan beberapa indikator komunikasi efektif sebagai berikut:

a.     Komunikator yang efektif Seseorang yang piawai dalam melakukan komunikasi lazim disebut dengan komunikator efektif. Berdasarkan teori yang ada, seorang komunikator baru disebut efektif jika memiliki indikator; credibility, capability, clarity, symphaty dan enthusiasity. Credibility, maksudnya citra diri. Hal ini berkaitan dengan prestasi, spesifikasi keilmuan, kompetensi, pengalaman dalam bidang yang ditekuni, nama baik, jasa-jasa dalam bidang tertentu, temuan, popularitas, serta dedikasinya terhadap profesi yang ditekuni. Bagi pembicara yang belum banyak dikenal audience, atau karena jam terbang masih terbatas, MC atau moderator perlu memperkenalkan/membacakan curriculum vitae-nya. Pengenalan ini perlu, karena pendengar akan lebih mengenal pembicara sehingga lebih menghargai dan tergerak untuk mendengarkan apa yang disampaikan Pada saat inilah, pendengar diam-diam mempertimbangkan, akan mendengarkan dengan sungguh-sungguh, ala kadarnya, atau tidak usah sama sekali. Membangun kredibilitas atau citra diri berarti membangun kesuksesan penampilan. Tingkat kesuksesan pembicara sangat relatif, tetapi setidak-tidaknya ada tiga kawasan, yang dapat dijadikan tolok ukur: yakni kawasan teknologi, kawasan akademik dan kawasan humanistik. Seorang pembicara efektif dituntut memiliki kecakapan atau kemampuan yang memadai. Tidak harus pintar sekali, tetapi memadai cukup dalam beberapa hal diantaranya;

1.     Kecakapan mengemukakan pikiran secara singkat, jelas, tetapi padat sehingga dapat meyakinkan audience dengan mudah. Untuk membina kecakapan ini, perlu melakukan beberapa upaya antara lain; membuat persiapan yang matang dan mengemas materi pembicaraan secara sistematis, runtut dan logis.

2.     Kecakapan mempertahankan pikiran atau pendapat, dalam forum pertemuan yang bersifat dialogis atau komunikasi dua arah seperti dalam diskusi atau seminar.

3.     Kemampuan mengkoordinasikan dan mengkombinasikan secara tepat komuniksi verbal dan non verbal. Clarity, dapat dideskripsikan sebagai kejelasan dan ketepatan ucapan. Penerapan komunikasi verbal banyak bertumpu pada clarity. Sebagai komunikator, seorang pembicara handal dituntut mampu mengkomunikasikan pesan atau formasi kepada audience. Vokal sebagai media pengungkapan ekspresi merupakan media penyampaian informasi melalui pengucapan. Sampai atau tidaknya penyampaian pesan dari seorang pembicara, banyak ditentukan oleh keterampilan penguasaan teknik vokalnya. Keterampilan tersebut sangat dipengaruhi tingkat kejelasan penyampaian materi atau pesan. Sympathy.

b.     Pesan yang Efektif Pesan yang efektif memiliki ciri-ciri, antara lain:

1.     Penggunaan istilah yang diartikan “sama”, antara pengirim dan penerima pesan merupakan aturan dasar untuk mencapai komunikasi yang efektif. Kata- kata yang samar artinya ( mempunyai lebih dari satu makna) dapat menimbulkan kebingungan dan salah pengertian.

2.     Pesan yang dipertukarkan harus spesifik. Maksudnya, pesan yang disampaikan harus jelas sehingga si penerima pesan dapat menerima dan mengulangi dengan benar.

3.     Pesan harus berkembang secara logis dan tidak boleh terpotong-potong. Objektif, akurat dan aktual. Pengirim informasi harus berusaha menyampaikan pesan seobjektif mungkin. Pesan disampaikan seringkas dan seoriginal mungkin serta harus berusaha untuk menghilangkan kata yang tidak relavan.

c.     Media yang Efektif Karakteristik media penyampaian terdiri dari;

1.     Kebutuhan luasnya jangkauan dan kecepatan penetrasi. Apabila pesan yang akan disampaikan menargetkan khalayak yang lebih luas, maka TV dan radio dengan jangkauan dan kecepatan penetrasi tinggi menjadi pilihannya.

2.     Kebutuhan pemeliharaan memori. Apabila pesan yang ingin disampaikan tingkat kebutuhan yang tinggi untuk diingat, maka media seperti spanduk, poster, baliho, billboard dapat menjadi pilihan karena akan menampilkan pesan yang sama dalam waktu yang relatif lama.

3.     Kebutuhan jangkauan khalayak yang selektif. Pesan yang ditujukan untuk target tertentu maka koran atau surat kabar tertentu dapat menjadi pilihan, misalnya koran otomotif atau koran lowongan kerja.

4.     Kebutuhan jangkauan khalayak lokal. Apabila pesan yang ingin disampaikan bersifat lokal, maka media lokal dapat menjadi salah satu pilihannya.

5.     Kebutuhan frekuensi tinggi. Apabila pesan yang ingin disampaikan membutuhkan media dengan frekuensi tinggi maka radio ataupun media luar ruang dapat menjadi salah satu pilihannya.

Alan R. Dennis dan Joseph S. Valacich menyatakan dalam teorinya terkait media sinkronisitas (media synchronicity), bahwa efektivitas suatu media ditentukan berdasarkan sejauhmana suatu media dapat mendukung proses sinkronisitas di antara beberapa individu untuk bekerjasama dalam kegiatan yang sama, dan pada waktu yang sama untuk mencapai kesamaan tujuan. Kapasitas media sendiri dapat diamati dari beberapa dimensinya yang akan mempengaruhi proses komunikasi tersebut, antara lain; seberapa cepat suatu media mendukung proses komunikasi dua arah (immediacy of feedback), banyaknya cara penyampaian beragam informasi (symbol variety), banyaknya pesan dari beberapa sumber yang dapat diakomodir secara simultan (parallelism), kemampuan yang memungkinkan pengirim menyunting pesan sebelum dikirimkan (rehearsability), dan sejauh apa sebuah pesan dapat dikaji ulang atau diolah kembali dalam konteks komunikasi yang terjadi (reprocessability). Dengan menganalisa dimensi-dimensi tersebut, efektivitas suatu media akan ditentukan berdasarkan dimensi mana yang dianggap paling penting dalam suatu konteks komunikasi. Dengan berbagai kemajuan teknologi komunikasi sekarang ini, hampir semua media komunikasi, baik yang tradisional maupun digital dapat digunakan secara bergantian oleh kaum profesional dengan mempertimbangkan tingkat kepentingan masing-masing.

6.     Penerima Pesan/Audien Komunikasi dapat dikatakan berhasil apabila sang penerima pesan memahami dan melakukan apa yang terdapat pada isi pesan. Ukuran keberhasilan dalam penyampaian informasi adalah apakah komunikan itu sendiri memahami pesan yang disampaikan. Pada saat ini, konsep audien merujuk pada sekumpulan orang yang terbentuk sebagai akibat atau hasil dari kegiatan komunikasi yang dilakukan dan jumlahnya besar (atau mungkin tidak terbatas), ada yang tidak saling mengenal satu sama lain dan dengan karakteristik yang heterogen. Dalam hal ini, tingkat pemahaman seseorang bisa berbeda-beda tergantung beberapa faktor, contohnya latar belakang pendidikan, usia ataupun status sosial.

7.     Efek Pertanyaan mengenai efek komunikasi ini dapat mempersoalkan 2 hal, yaitu apa yang ingin dicapai dengan hasil komunikasi tersebut dan apa yang dilakukan orang sebagai hasil dari komunikasi. Akan tetapi perlu diingat, bahwa kadang-kadang tingkah laku seseorang tidak hanya disebabkan oleh faktor hasil komunikasi tetapi juga dipengaruhi faktor lain.

B.   Bentuk-Bentuk Komunikasi dalam Pendidikan

Menurut pendapat Gurnitowati dan Maliki (2003) yang dikutip oleh Warsita,7 terdapat dua bentuk komunikasi, yaitu;

a.     Komunikasi lisan/komunikasi verbal. Dalam komunikasi lisan, informasi disampaikan secara lisan atau verbal melalui apa yang diucapkan dari mulut atau dikatakan, dan bagaimana mengatakannya. Informasi yang disampaikan secara lisan, melalui ucapan kata-kata atau kalimat disebut dengan berbicara yang dapat digunakan untuk mengungkapkan perasaan dan gagasan.

b.     Komunikasi nonlisan/komunikasi nonverbal. Komunikasi ini menggunakan isyarat (gestures), gerak-gerik (movement), sesuatu barang, cara berpakaian, atau sesuatu yang dapat menunjukkan perasaan (expression) pada saat terpenting misalnya sakit, gembira, atau stres. Komunikasi ini mempunyai beberapa fungsi yaitu:

a)    pengulangan pesan yang disampaikan (repetition);

b)   pertentangan penyangkalan dari suatu pesan (contradiction);

c)    pengganti dari pesan (substitution);

d)   melengkapi pesan verbal (complementing);

e)    penekanan atau menggaris-bawahi pesan (accenting).

C.     Model-Model Komunikasi

Model adalah gambaran atau persamaan aspek-aspek tertentu dari peristiwa, struktur –struktur atau sistem kompleks yang dibuat dengan menggunakan simbol–simbol atau objek, dengan berbagai cara sehingga menyerupai sesuatu yang dibuat model tersebut. Model komunikasi berfungsi untuk mempermudah mempelajari dan menganalisis komunikasi. Berikut adalah model-model komunikasi menurut para ahli beserta contoh.

1.     Model Komunikasi Osgood-Schramm Penjelasan: 1) Model komunikasi melingkar (circular); 2) Encoder - Siapa yang encoding atau mengirim pesan (sumber pesan); 3) Decoder - siapa yang menerima pesan; 4) Interpreter - Orang yang mencoba untuk memahami (analisis, melihat) atau menafsirkan. Terjadi antara dua orang. Setiap orang bertindak baik sebagai pengirim dan penerima dan karenanya menggunakan interpretasi. Hal ini bersamaan terjadinya dengan pengkodean, menafsirkan dan decoding. Dari pesan mulai dan berakhir, ada interpretasi yang sedang berlangsung.

Keuntungan dari model komunikasi Osgood Schramm:

a.     Pemodelan dinamis menunjukkan bagaimana situasi bisa berubah Menunjukkan informasi yang berlebihan merupakan bagian penting dalam komunikasi.

b.     Tidak ada pemisah antara pengirim dan penerima, pengirim dan penerima adalah orang yang sama.

c.     Komunikasi diasumsikan melingkar.

d.     Umpan sebagai ciri utama. Kelemahan model komunikasi Osgood Schramm adalah model ini tidak berbicara tentang kebisingan semantik.

2.     Model Komunikasi Johari Window Model Johari window digunakan untuk meningkatkan persepsi individu pada orang lain. Model ini didasarkan pada dua pemikiran, yaitu;

a.     Kepercayaan dapat diperoleh dengan mengungkapkan informasi diri kepada orang lain.

b.     Mempelajari diri sendiri dari masukan orang lain.

Setiap orang diwakili oleh model ini melalui empat kuadran atau kaca jendela. Setiap kaca jendela menandakan pribadi informasi, perasaan, motivasi dan apakah informasi yang diketahui atau tidak diketahui diri sendiri atau orang lain dalam empat sudut pandang.

1.     Area terbuka. Informasi tentang sikap, perilaku, emosi, perasaan, keterampilan dan pandangan akan dikenal diri sendiri maupun oleh orang lain. Daerah di mana semua komunikasi terjadi dan menjadi arena lebih besar, lebih efektif dan dinamis dalam menjalin hubungan komunikasi.

2.     Blind spot. Informasi tentang diri diketahui orang lain dalam kelompok tetapi kita sendiri tidak mengetahui. Orang lain mungkin menafsirkan sendiri berbeda dari yang anda harapkan. Blind spot akan berkurang dalam komunikasi yang efisien manakala diri mencari umpan balik dari orang lain

3.     Hidden area. Informasi yang diketahui diri sendiri tapi orang lain tidak mengetahui informasi anda. Informasi pribadi yang enggan untuk diungkapkan; perasaan, pengalaman masa lalu, ketakutan, rahasia, dll. Kita menyimpan beberapa perasaan dan informasi rahasia karena akan mempengaruhi hubungan dan dengan demikian daerah tersembunyi harus dikurangi dengan memindahkan informasi ke daerah terbuka.

4.     Unknown Area. Informasi yang tidak diketahui diri sendiri dan orang lain; informasi, perasaan, kemampuan, bakat, pengalaman masa lalu traumatis atau peristiwa yang tidak dapat diketahui untuk seumur hidup. Orang akan menyadari sampai ia menemukan kualitas tersembunyi dan kemampuan atau melalui pengamatan orang lain. Komunikasi yang terbuka juga merupakan cara yang efektif untuk mengurangi daerah yang tidak diketahui sehingga komunikasi makin efektif.

3.     Model Komunikasi Spiral atau Uhelik Frank Dance (1967) menggambarkan proses komunikasi dengan menggunakan spiral. Dance percaya bahwa pengalaman komunikasi bersifat kumulatif dan dipengaruhi oleh masa lalu. Dance mencatat bahwa pengalaman saat ini tak terelakkan mempengaruhi masa depan seseorang. Komunikasi, oleh karena itu, dapat dianggap sebagai proses yang berubah dari waktu ke waktu dan di antara makna. Seluruh proses membutuhkan beberapa waktu untuk mencapai puncak. Seperti proses helix, proses komunikasi dimulai sangat lambat dan dan kecil. Komunikator berbagi informasi hanya dengan sebagian kecil dari dalam sebuah hubungan sosial, secara bertahap berkembang menjadi tingkat berikutnya tetapi akan memakan waktu lama untuk mencapai dan memperluas batas-batasnya ke tingkat berikutnya. Kemudian komunikator melakukan lebih banyak berbagi informasi diri.

4.     Komunikasi Efektif dalam Al Qur’an Komunikasi efektif dalam Al-Qur’an yang dimaksud dalam tulisan ini adalah rumusan prinsip dalam melakukan interaksi atau hubungan dengan orang lain yang telah disinyalir dalam Al-Qur’an. Istilah prinsip, kaidah ataupun etika komunikasi dalam Al-Qur’an mencakup cara komunikasi yang efektif yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadith. Pesan-pesan yang disampaikan meliputi seluruh ajaran Islam; akidah (iman), syariah (Islam) dan akhlak (ihsan). Bila mengkaji isi Al-Qur’an yang berhubungan dengan komunikasi, akan ditemukan ada sekian banyak term atau kata yang berhubungan dengan komunikasi.

Berikut ini al-Quran memberikan enam prinsip atau model dalam berkomunikasi efektif dengan orang lain, yaitu:

1.     Qaulan Sadīda Qaulan Sadīda berarti pembicaran, ucapan, atau perkataan yang benar dan tegas, baik dari segi substansi (materi, isi, pesan) maupun redaksi (tata bahasa). Dari segi substansi, komunikasi harus menginformasikan atau menyampaikan kebenaran, faktual, hal yang benar saja, jujur, tidak berbohong, juga tidak merekayasa atau memanipulasi fakta. Seperti firman Allah: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. (QS. An-Nisa: 9) Perkataan Qaulan Sadīda diungkapkan al-Quran dalam konteks pembicaraan mengenai wasiat. Menurut beberapa ahli tafsir seperti Hamka, Al-Ṭabari, Al-Baghawi, Al-Maraghi dan Al-Buruswi, bahwa Qaulan Sadīda dari segi konteks ayat mengandung makna kekhawatiran dan kecemasan seorang pemberi wasiat terhadap anak-anaknya yang digambarkan dalam bentuk ucapan-ucapan yang lemah lembut (halus), jelas, jujur, tepat, baik dan adil.

2.     Qaulan Ma’rūfa Kata Qaulan Ma’rūfa disebutkan Allah dalam QS. An-Nisa’; 5 dan 8, QS. Al-Baqarah; 235 dan 263, serta Al-Ahzab; 32. “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik”. (QS. An-Nisa’; 5) Secara bahasa arti ma’rūfa adalah baik dan diterima oleh nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Ucapan yang baik adalah ucapan yang diterima sebagai sesuatu yang baik dalam pandangan masyarakat lingkungan penutur. Dengan kata lain, menurut beberapa ahli, baik ahli tafsir seperti Hamka dan Al-Buruswi maupun pendapat ahli lainnya, bahwa qaulan ma’rūfa mengandung arti perkataan yang baik, yaitu perkataan yang sopan, halus, indah, benar, penuh penghargaan, dan menyenangkan, serta sesuai dengan kaidah, hukum dan logika. Qaulan Ma’rūfa juga bermakna pembicaraan yang bermanfaat dan menimbulkan kebaikan (maslahat).

3.     Qaulan Balīgha ْ“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”. (QS. Annisaa: 63) Qaulan Balīgha diartikan sebagai pembicaraan yang fasih atau tepat, jelas maknanya, terang, serta tepat mengungkapkan apa yang dikehendakinya, komunikatif atau juga dapat diartikan sebagai ucapan yang benar dari segi kata. Apabila dilihat dari segi sasaran atau ranah yang disentuhnya dapat diartikan sebagai ucapan yang efektif. Agar komunikasi tepat sasaran, gaya bicara dan pesan yang disampaikan hendaklah disesuaikan dengan kadar intelektualitas komunikan dan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh mereka. Ketika berkomunikasi dengan orang awam tentu harus dibedakan dengan saat berkomunikasi dengan kalangan cendekiawan. Berbicara di depan anak TK tentu harus tidak sama dengan saat berbicara di depan mahasiswa. Dalam konteks akademis, kita dituntut menggunakan bahasa akademis. Saat berkomunikasi di media massa, gunakanlah bahasa jurnalistik sebagai bahasa komunikasi massa (language of mass communication). Seperti disebutkan dalam Al-Qur’an;”Tidak kami utus seorang rasul kecuali ia harus menjelaskan dengan bahasa kaumnya” (QS. Ibrahim; 4).

4.     Qaulan Maysūra “Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, Maka Katakanlah kepada mereka Ucapan yang pantas”. (QS. Al-Isra: 28). Dalam terjemahan Kemetrian Agama, ditafsirkan; “apabila kamu tidak dapat melaksanakan perintah Allah seperti yang tersebut dalam ayat 28, maka katakanlah kepada mereka perkataan yang baik agar mereka tidak kecewa lantaran mereka belum mendapat bantuan dari kamu. dalam pada itu kamu berusaha untuk mendapat rezki (rahmat) dari Tuhanmu, sehingga kamu dapat memberikan kepada mereka hak-hak mereka. Menurut bahasa, qaulan maysūra artinya perkataan yang mudah. Adapun para ahli tafsir seperti Al-Ṭabari dan Hamka mengartikan bahwa qaulan maysūra sebagai ucapan yang membuat orang lain merasa mudah, bernada lunak, indah, menyenangkan, halus, lemah lembut dan bagus, serta memberikan rasa optimis bagi orang yang diajak bicara. Mudah artinya bahasanya komunikatif sehingga dapat dimengerti dan berisi kata-kata yang mendorong orang lain untuk tetap mempunyai harapan. Ucapan yang lunak adalah ucapan yang menggunakan ungkapan dan diucapkan dengan pantas atau layak.

5.     Qaulan Layyina “Maka sampaikanlah baginya dengan perkataan yang lemah lembut, agar mereka senantiasa mengingat Allah atau agar mereka takut kepadaNya”. (QS Thaha ayat 44). Qaulan Layyina dari segi bahasa berarti perkataan yang lemah lembut. Secara lebih jelas bahwa qaulan layyina adalah ucapan baik yang dilakukan dengan lemah lembut sehingga dapat menyentuh hati yang diajak bicara. Ucapan yang lemah lembut dimulai dari dorongan dan suasana hati orang yang berbicara. Apabila berbicara dengan hati yang tulus dan memandang orang yang diajak bicara sebagai saudara yang dicintai, maka akan lahir ucapan yang bernada lemah lembut. Dengan kelemah-lembutan itu maka akan terjadi sebuah komunikasi yang akan berdampak pada terserapnya isi ucapan oleh orang yang diajak bicara sehingga akan terjadi tak hanya sampainya informasi tetapi jua akan berubahnya pandangan, sikap dan perilaku orang yang diajak bicara.

6.     Qaulan Karīma Dari segi bahasa qaulan karīma berarti perkatan mulia. Perkataan yang mulia adalah perkataan yang memberi penghargaan dan penghormatan kepada orang yang diajak bicara. “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaikbaiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (QS. Al-Isra: 23). Dalam hal ini bisa juga diartikan mengucapkan kata “ah” kepada orang tua tidak dibolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.

Dari sekian pengertian dan penjelasan makna qaulan di atas, maka konstruksi prinsip-prinsip komunikasi efektif dalam Al-Qur’an seperti diuraikan sebelumnya mengandung ucapan (komunikasi) yang memiliki nilai; 1) kebenaran, 2) kejujuran, 3) keadilan, 4) kebaikan, 5) lurus, 6) halus, 7) sopan, 8) pantas, 9) penghargaan, 10) khidmat, 11) optimis, 12) indah, 13) menyenangkan, 14) logis, 15) fasih, 16) terang, 17) tepat, 18) menyentuh hati, 19) selaras, 20) mengesankan, 21) tenang, 22) efektif, 23) lunak, 24) dermawan, 25) lemah lembut, 26) rendah hati.

D.    Hubungan Komunikasi dan Pendidikan Karakter

Komunikasi berlaku dalam kehidupan sehari-hari yang mencakup segala bidang, salah satunya adalah pendidikan. Pendidikan tidak bisa berjalan tanpa dukungan komunikasi, bahkan pendidikan hanya bisa berjalan melalui komunikasi. Dengan kata lain, tidak ada perilaku pendidikan yang tidak dilahirkan oleh komunikasi. Semuanya membutuhkan komunikasi yang sesuai dengan bidangnya. Secara garis besar bahwa fungsi umum komunikasi ialah informatif, edukatif, persuasi dan rekreatif (entertainment). Maksudnya, komunikasi berfungsi memberi keterangan, memberi fakta yang berguna bagi segala aspek kehidupan manusia. Di samping itu, komunikasi juga berfungsi mendidik masyarakat dalam menuju pencapaian kedewasaan bermandiri.

Di sinilah komunikasi memiliki keterkaitan yang signifikan dengan pendidikan, khususnya dalam pendidikan karakter. Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dalam mewujudkan usaha pendidikan, maka diperlukan komunikasi pendidikan. Di sekolah berlangsung hubungan komunikasi, interaksi pendidikan antara peserta didik dan pendidik untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Pendidikan pada hakekatnya memiliki dua tujuan, yaitu membantu manusia untuk menjadi cerdas dan pintar (smart) dan membantu mereka menjadi manusia yang baik (good).

Dengan demikian, komunikasi direncanakan secara sadar untuk tujuan-tujuan pendidikan, tujuan mengubah perilaku pada pihak sasaran, karena itu ia memerlukan waktu. Dalam menjalani waktu itulah terjadi proses komunikasi, proses saling berbagi informasi antara dua pihak. Dalam pendidikan Islam, tujuan pendidikan adalah membentuk akhlak yang mulia. Tujuan tersebut identik dengan nilai-nilai yang mendasari misi Rasulullah SAW, yaitu menyempurnakan akhlak yang mulia. Inilah yang saat ini dikenal dengan istilah pendidikan karakter.

Pendidikan karakter merupakan suatu proses yang membantu menumbuhkan, mengembangkan, mendewasakan, membentuk kepribadian seseorang yang merupakan karakter atau ciri khas dari orang tersebut. Proses tersebut dilakukan secara sadar dan sistematis, sehingga terbentuk kepribadian yang digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap dan bertindak. Komunikasi sangat berperan dalam perkembangan atau bahkan perubahan pola tingkah laku dari seseorang. Berbicara tentang pendidikan, khususnya pendidikan karakter maka banyak unsur yang terkait, di antaranya yang sangat mengikat adalah pendidik, peserta didik, kurikulum/isi/ materi, media, metode dan lingkungan. Setiap unsur memiliki kriteria tersendiri, namun semua kriteria tersebut sangat dipengaruhi oleh kualitas komunikasi yang disampaikan baik lisan maupun non lisan.

1.     Pendidik adalah sosok yang menjadi poros utama dalam pendidikan, sehingga banyak dari pakar pendidikan yang memberikan kriteria bagi seorang pendidik. Menurut Nashi Ulwan, ada 5 kriteria yang harus dimiliki bagi pendidik (takwa, ikhlas, berilmu, santun & lemah lembut, tanggung jawab). Menurut Abdul Rahman Al-Nahlawi, ada 10 kriteria bagi pendidik. Jelasnya, pendidik harus dapat menjadikan dirinya sebagai sosok teladan para peserta didiknya. Kriteria pendidik tersebut memberikan sinyalemen bahwa pendidik harus menjadi komunikator yang handal. Penguasaan dan penyampaian materi yang bermuatan nilai, serta penciptaan suasana yang kondusif religius harus dapat dilakukan oleh pendidik dalam proses pendidikan. Pengetahuan terhadap psikologi peserta didik juga menjadi syarat pendidik agar proses bimbingan lebih efektif dan efisien. hematnya, pendidik harus menjadi komunikator yang efektif agar proses bimbingan, motivasi dan pembentukan karakter dengan memberikan pengetahuan, internalisasi nilai moral kepada peserta didik dapat terjalin baik.

2.     Peserta didik menjadi tujuan dan sasaran utama pendidikan karakter. Pemahaman peserta didik terhadap ilmu pengetahuan, penghayatan nilai-nilai, serta perkembangan mental dari peserta didik adalah ukuran keberhasilan seorang pendidik dalam membangun komunikasi pendidikan karakter, baik melalui komunikasi verbal maupun non verbal, langsung maupun tidak langsung. Menurut pendidikan Islam, pembentukan kepribadian memerlukan proses terus menerus sepanjang hayat, mulai masa dalam kandungan hingga akhir hayat. Namun, dalam pelaksanaan pendidikan formal, proses pendidikan didasarkan pada jenjang usia dan perkembangan mental peserta didik. Dengan demikian, maka bentuk komunikasi masing-masing jenjang mulai dari kandungan, memasuki jenjang pendidikan formal hingga akhir hayat harus sesuai dan dilakukan secara berkesinambungan dan terus menerus, karena pendidikan karakter membutuhkan proses yang lama dan disitulah komunikasi juga berperan aktif bagi peserta didik.

3.     Materi. Materi pendidikan karakter lebih difokuskan pada penanaman nilai-nilai akhlak pada ranah kognitif, afektif dan psikomotorik dan diinternalisasikan selama proses perkembangan mental peserta didik. Penanaman nilai pada pada masing-masing ranah membutuhkan komunikasi yang tepat agar secara konseptual materi dapat disampaikan dan dipahami oleh peserta didik. Demikian juga nilai-nilai dalam materi dapat diterima dan menjadi sebuah prinsip bagi peserta didik sehingga mudah untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

4.     Media. Media merupakan bentuk riil dari sebuah komunikasi. Dalam pendidikan karakter, media yang paling komunikatif dan efektif adalah keteladanan. Keteladanan memfungsikan seluruh anggota tubuh untuk mengkomunikasikannya sesuai dengan isi materi yang diberikan baik secara teori/konseptual maupun praktek.

5.     Lingkungan. Lingkungan memiliki komponen yang sangat kompleks dalam pendidikan karakter. Lingkungan menjadi sumber ilmu, metode, komunikator, dan masih banyak lagi unsur yang lain, yang semuanya beraneka ragam bentuk. Hal ini menyebabkan lingkungan menjadi faktor yang sangat berpengaruh cepat bagi pendidikan karakter peserta didik, karena komunikasi yang terjalin sangat kuat sehingga mudah untuk diterima.

Di dalam pelaksanaan pendidikan formal (pendidikan melalui sekolah), tampak jelas adanya peran komunikasi yang sangat menonjol. Proses belajar mengajarnya sebagian besar terjadi karena proses komunikasi, baik yang berlangsung secara intra-persona maupun secara antar-persona. Intra-persona, yaitu komunikasi yang terjadi di dalam individu itu sendiri, tampak pada kejadian berpikir, mempersepsi, mengingat dan mengindra. Hal demikian dijalani oleh setiap anggota sekolah bahkan oleh semua orang. Sedangkan, antar-persona, ialah bentuk komunikasi yang berproses dari adanya ide atau gagasan informasi seseorang kepada orang lain. Dosen yang memberi kuliah, berdialog, bersambung rasa, berdebat, berdiskusi, dan sebagainya adalah sebagian besar dari contoh-contohnya. Tanpa keterlibatan komunikasi tentu segalanya tidak bisa berjalan. Komunikasi di sini adalah terutama yang terjadi pada kegiatan mengajar dan belajar, pada kegiatan tatap muka maupun pada kegiatan lainnya. Hal itu hanya dimungkinkan melalui kemampuan berkomunikasi untuk mentransfer makna di antara individu. Aktifitas kelompok mustahil ada tanpa ada sarana bertukar pengalaman dan sikap. Komunikasi melibatkan semua simbol batin, sarana penyampaian simbol dan untuk menjaga simbol-simbol itu. Untuk mencapai, memahami, dan mempengaruhi orang lain, seseorang harus berkomunikasi. Pentingnya komunikasi digaris bawahi oleh kenyataan bahwa; “tindakan seseorang didasari oleh apa yang diketahui atau apa yang dianggapnya diketahui”.

Dari penjelasan singkat di atas, memberikan pemahaman bahwa antara komunikasi dan pendidikan karakter menjadi satu sistem yang mengikat kuat satu sama lain dan memiliki dampak yang saling bertautan.

E.    Penggunaan Komunikasi yang Efektif dalam Pendidikan Karakter

Dalam pendidikan khususnya pembelajaran, tidak terlepas dari komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan. Untuk menciptakan proses komunikasi yang efektif, pendidik harus memahami konsep dasar komunikasi pendidikan, antara lain mengenai proses komunikasi pendidikan, teknik berkomunikasi secara efektif, bentuk komunikasi, prinsip komunikasi, komunikasi lisan dan tertulis, metode yang tepat dalam komunikasi pendidikan, strategi untuk meningkatkan efektivitas komunikasi dalam pendidikan, serta hambatan yang seringkali muncul dalam komunikasi pendidikan yang berasal dari peserta didik maupun pendidik itu sendiri. Komunikasi dikatakan efektif apabila terdapat aliran informasi dua arah antara komunikator dan komunikan dan informasi tersebut sama-sama direspon sesuai dengan harapan kedua pelaku komunikasi tersebut.

Unsur dalam komunikasi harus terpenuhi dalam pendidikan dan masing-masing memenuhi syarat dan prinsip yang berlaku, agar keefektifan komunikasi terlaksana sehingga pendidikan karakter mencapai tujuannya. Model komunikasi yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadisth dapat dijadikan sumber termasuk dari hasil pemikiran para pakar komunikasi untuk mempercepat proses pendidikan.

Secara operasional dapat dijelaskan sebagai berikut: Pendidik sebagai Komunikator Dalam pendidikan karakter, para pendidik harus mempersiapkan diri secara keilmuan, mental dan spiritual terlebih dahulu. Pendidikan ini bukan perkara mudah karena arah dari pendidikan karakter adalah pembentukan sesuatu di dalam diri manusia yang selalu mengalami dinamika sehingga membutuhkan proses lama dan intensif. Oleh karena itu, kriteria sebagai pendidik yang komunikatif harus dapat dimiliki secara professional, di antara kriteria tersebut antara lain;

1.     kriteria sebagai pendidik dan komunikator. Kedua kriteria tersebut pada dasarnya memiliki ketentuan yang sama arah. Kriteria sebagai pendidik: a. Memiliki sifat robbani (Ali Imron; 79)

2.     Menyempurnakan sifat robbani dengan keikhlasan

3.     Sabar

4.     Memiliki kejujuran (Al-Shaf; 2)

5.     Meningkatkan wawasan pengetahuan (Ali Imran; 79)

6.     Menguasai variasi dan metode mengajar

7.     Bersikap tegas, mampu mengontrol diri (Fushshilat; 6)

8.     Memahami dan menguasai psikologis anak

9.     Menguasai fenomena kehidupan (Al-Fatihah; 7)

10. Bersifat adil /objektif terhadap peserta didik.15

KESIMPULAN

Komunikasi menjadi sistem dalam proses pendidikan karakter. Artinya, pendidikan karakter dipengaruhi oleh kualitas komunikasi yang terjalin dengan menggunakan Bahasa yang efektif. Komunikasi yang efektif memiliki ketentuan, syarat, prinsip dan strategi yang universal sehingga eksistensinya hingga saat ini cukup signifikan diaplikasikan dalam pendidikan karakter. Berbagai bentuk model, bentuk komunikasi baik yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadisth, maupun dari pemikiran pakar komunikasi, semuanya terletak pada kualitas pendidik dalam menempatkan fungsi dan tanggung jawabnya. Ada hubungan yang erat antara komunikasi yang efektif dengan pendidikan karakter. Dalam pendidikan khususnya pembelajaran, tidak terlepas dari komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan. Untuk menciptakan proses komunikasi yang efektif, pendidik harus memahami konsep dasar komunikasi pendidikan, antara lain mengenai proses komunikasi pendidikan, teknik berkomunikasi secara efektif, bentuk komunikasi, prinsip komunikasi, komunikasi lisan dan tertulis, metode yang tepat dalam komunikasi pendidikan, strategi untuk meningkatkan efektivitas komunikasi dalam pendidikan, serta hambatan yang seringkali muncul dalam komunikasi pendidikan yang berasal dari peserta didik maupun pendidik itu sendiri. Komunikasi dikatakan efektif apabila terdapat aliran informasi dua arah antara komunikator dan komunikan dan informasi tersebut sama-sama direspon sesuai dengan harapan kedua pelaku komunikasi tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Abdillah Hanafi. 1984. Memahami Komunikasi antar Manusia. Surabaya: Usaha Nasional.

Abdul Majid. 2013. Strategi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Al-Nahlawi, Abdurrahman. Teologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001.

al-Syaibany, Mohammad Oemar al-Toumy. Filsafat Pendidikan Islam. terj. Hasan Langgulung, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
 

Denis, A. and J. Valacich, “Rethinking Media Richness: Towards A Theory of Media Synchronicity”. Proceedings of the 32nd Hawaii International Conference on Systems Science, 1999.

Efendi, Onong Uchyana. Dinamika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004.

Hafied Cangara. 2000. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Grafindo Persada.

Jalaludin Rakhmat. 2008. Psikologi Komunikasi, edisi revisi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Jalaluddin, Teologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001

Malik, Dedy Djamaludin. Komunikasi Persuasif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994.

Marsudi Wahyu Kisworo. (2016). Revolusi Mengajar. Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan (Pakem). Jakarta: Asik Generation.

Pawit, M. Yusuf. Komunikasi Instruksional. Jakarta: Bumi Aksara, 2010.

Syaiful Rohim. 2009. Teori Komunikasi Perspektif Ragam Dan Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta.

Warsita, Bambang. Teknologi Pembelajaran; Landasan & Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta, 2008.

 

 

 

IKASTI TRACER STUDY